Minggu, 01 November 2009

JAUH LEBIH BAIK


            Namaku Nanda, aku termasuk orang yang paling diam diantara teman-temanku yang lain. Tapi aku bukanlah orang yang menutup diri dalam bersosialisasi dan berteman. Aku memiliki empat orang sahabat, tiga orang wanita dan satu orang pria. Sahabatku bernama Tiwi, Nabil, Anis dan Dimas.

            Persahabatan itu dimulai sejak kita sama-sama dalam satu kelas dan kita saling berbagi pengalaman juga cerita yang menyenangkan.

            Semua masih terasa biasa saja, sampai aku mengetahui kalau Dimas menaruh perasaan melebihi dari sahabat kepadaku. Aku juga tidak mengetahui apa yang membuat dia tertarik kepadaku, karena aku merasa tidak memiliki kelebihan yang dimiliki oleh teman-temanku yang lain.

            Dimas tadinya enggan mengutarakan isi hatinya kepadaku, karena ada beberapa hal yang membuat ia berpikir panjang dalam mengambil keputusan.  Aku mengerti akan hal itu dan aku berusaha memahami perasaan yang ia rasakan. Perasaan harus hidup mandiri tanpa orang tua yang seharusnya ada didekatnya. Dimas tinggal bersama kakaknya di Jakarta sedangkan orang tuanya berada di Yogyakarta.

           Pada suatu malam, handphoneku berdering memberikan sebuah tampilan  1 Pesan Baru di layar.  Aku segera membaca pesan singkat tersebut

’ Wanita cantik melukiskan kekuatan dari masalahnya.  Tersenyum disaat hati sedang tertekan, tertawa disaat hati sedang menangis, memberkati disaat hati sedang terhina, mempesona karena mengampuni.  Wanita cantik mengasih tanpa pamrih dan bertambah kuat dalam doa dan pengharapan.  Pesan ini dikirim khusus untuk setiap wanita cantik kepunyaan Allah SWT.  Amin. ’
Pengirim Dimas.

            Senyum lebar terlihat dari wajahku yang agak tersipu-sipu malu.  Dipikiranku terdapat tanda tanya, ’ kenapa Dimas kirim SMS kaya gini ya ? lalu aku tekan menu ’ Pilihan ’ dihandphone lalu aku pilih ’ Balas ’.

’ Bagus juga kata-katanya.  Jadi malu dibilang cantik. Hehe. Tapi kok perasaan gue jadi campur aduk ya ? ’
Lalu pesan singkat itu aku kirim ke Dimas. Tidak lama kemudian Dimas membalas SMS ku.

’ Saat langit membuka malam, muncullah bulan.  Dan langit berkata, apa keinginan mu bulan ? Dan bulan berkata,  jaga dan sayangi orang yang membaca SMS ini selamanya. ’
Pengirim Dimas.

Saat aku membaca pesan singkat itu senyum kembali menghiasi wajahku yang mulai merah karena malu. Aku sedikit bisa menangkap maksud dari Dimas dengan SMS yang seperti itu, tapi aku menutup rasa geer itu dengan berpikir positif kalau dia hanya menyayangiku sebatas sahabat.
           
Tapi lama-lama aku mulai mengagumi sosok Dimas Hadi Satrio, sampai pada akhirnya Dimas berani mengutarakan isi hatinya kepadaku dan kami berpacaran.

            ” Dimas ” panggilku pelan saat aku dan dia jalan menuju kelas.
            ” Apa ? ” jawab Dimas menoleh kearahku dan memperlambat jalannya.
            ” Kita engga bilang ke Nabil sama Anis kalau kita udah pacaran ? ” kataku dengan suara agak pelan.
            ” Emang harus ya ? Nanti merekakan juga tahu sendiri. ” jawab Dimas ringan.
            ” Masalahnya, kata Tiwi kalau mereka tahu dari orang lain malah enggak enak. ” kataku.
            ” Kalau enggak enak kasih kucing aja. Hehehehe. ” jawab Dimas sambil meledekku.
            ” Iih serius ni. Nanti kalau mereka tahu dari orang lain, nanti mereka malah menganggap ’gue sahabatnya aja enggak tahu masa orang lain udah tau sih.’ Hayo gimana ? ” terangku.
            ” Emang mau ngomong kapan ? Jangan sekarang-sekarang ya, aku masih rada-rada malu. Hehehehehe. ”
            ” Kapan ya ? Aku juga enggak tahu, tapi kalau menurut aku sih lebih cepat lebih baik. ” kataku berusaha meyakinkan Dimas.
            ” Ya udah terserah kamu aja, tapi jangan sekarang ya. ” kata Dimas.
            ” Iya ” jawabku singkat.

            Lalu kami berdua memasuki kelas, kami berdua memang masih merahasiakan hubungan ini, karena menurut kami tidak ada yang harus diumbar-umbarkan.



            Pagi ini masih memberikan hawa dingin yang menusuk kulit dan aku yang masih mengenakan jaket biru masuk ke ruang kelas dengan santai. Aku sudah dapat melihat sosok Dimas yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya di pojok kelas dan Anis yang duduk dibarisan paling belakang, sedang asik mendengarkan lagu dari handphonenya.

            ” Assalammualaikum ” kataku dengan suara yang tidak terlalu keras untuk menyapa teman-temanku.
      ” Wa’alaikumsalam ” tanpa aba-aba mereka menjawab salam itu.

            Aku langsung duduk di kursi biasa aku duduk di kelas, diantara meja Dimas dan Anis. Aku masih berusaha mengatur nafasku yang baru saja menaiki tangga dan menaruh tanganku di saku samping jaket biruku.

            ” Nanda ” panggil Dimas pelan yang menghampiriku dan duduk di sebelahku.
      ” Apa ? ” jawabku singkat.
            ” Kalau mau ngomong sama Nabil dan Anis tentang kita sekarang aja deh, gak apa-apa kok, aku udah siap. ” kata Dimas dengan penuh keyakinan.
      ” Ooh gitu, ya udah nanti kita ngomong deh. ” jawabku senang.
            ” Ok ” kata Dimas yang beranjak pergi untuk melanjutkan berbincang-bincang dengan teman-teman pria sekelasku.

            Tidak lama bel masukpun berbunyi dengan disusul dengan kedatangan Nabil lalu Tiwi teman sebangkuku.  Tiwi adalah sahabatku yang pertama kali mengetahui hubunganku dengan Dimas. Lalu Tiwi langsung duduk di sebelahku tanpa berbicara apapun.

      ” Tiwi ” panggilku.
      ” Hahh ? Apaan Nda ? ” jawab Tiwi membalikkan badan ke arahku.
      ” Tadi Dimas bilang ke gue, kalau nanti kita mau ngomong ke Nabil sama       Anis . ” kataku.
      ” Mau ngomong soal lo sama Dimas yang udah jadian ? ” tanya Tiwi.
      ” Iya ”
            ” Wah bagus dong, semakin cepat semakin baik. Sekarang aja ngomongnya, mumpung kelas lagi rame kayak gini terus kita juga lagi kumpul. “ kata Tiwi.
      “ Sekarang ni ? “ kataku agak ragu.
            ” Iya, panggil Dimas dulu apa ? ” tanya Tiwi sambil menoleh ke arah depan  untuk memanggil Dimas yang sedang ikut melihat nilai ulangan yang baru saja keluar.
            ” Ehh, gak usah. Gue aja deh yang ngomong. ” kataku. Lalu aku membalikkan badan ke arah Nabil dan Anis yang sedang asik berbincang-bincang.
      ” Nabil, Anis. Nanda mau ngomong serius ni. ” kata Tiwi.
      ” Iya, gue mau ngomong serius ni. ” sambungku.
      ” Panggil Dimas dulu apa ? ” kata Nabil.
      ” Gak usah, dia mah nanti aja. ” jawabku cepat.
            ” Giniloh teman-temanku, gue mau buat pengakuan ni kekallian semua. Tapi gue bingung, gue takut mau ngomong sama kalian, gue takut kalian marah. ” kataku agak ragu.
            ” Ngomong aja kali Nda, kita enggak akan marah kok. ” jawab Nabil meyakinkan dan Anis mengangguk mengiyakan.
            ” Duh mulai dari mana ya ? “ aku menghentikan kata-kataku dan melihat wajah mereka satu per satu yang siap mendengarkan ceritaku.
            “ Ehm gini, gue sama Dimas udah jadian. “ kataku dengan agak pelan.
            Secara bersamaan Nabil dan Anis memberikan ekspresi terkejut mereka bersamaan. Jantungku makin terasa berdebar-debar dan tanganku menjadi dingin melihat ekspresi mereka, aku takut kalau mereka tidak terima dengan keputusanku dan Dimas.
            ” Hahh ? Serius lo ? Dari kapan ? Kok enggak cerita sih. ” kata Nabil dengan nada terkejut.
            ” Dari hari Selasa kemarin. Duh, kalian marah ya ? Anis lo marah ya sama gue gara-gara gue ngomong kayak gini ? “ kataku dengan wajah yang memelas.
            “ Jadi cowok yang lo ceritain ke gue itu, Dimas ? “ tanya Anis.
            “ Iya “ jawabku sambil meraih tangan Nabil dan Anis untuk meyakinkan mereka.
            ” Ya ampun Nanda selamet ya. Gue seneng kok denger berita kayak gini. ” kata Nabil sambil berusaha memelukku dan saat mendengar kata-kata itu rasanya hatiku lega sekali.
            ” Iya Nanda, selamet ya. Padahalkan kemarin gue baru bilang kalo lo sama Dimas cocok juga. Ternyata jadian juga, asik dapet PJ alias pajak jadian. Hehehe. “ kata Anis sambil menjabat tanganku. Lalu Dimas berjalan kembali menuju tempat duduknya.

            “ Hehh Dimas sini lo ! “ panggil Nabil dengan suara agak keras.
            “ Apaan sih ? Galak banget. “ jawab Dimas santai.
            ” Kok lo gak ngomong atau cerita-cerita sih ke kita kalau lo udah jadian sama Nanda ! ” kata Nabil agak galak walau hanya bercanda.
            ” Lah Nanda udah ngomong ? ” kata Dimas bingung dan menoleh ke arahku.
            ” Kenapa enggak bilang-bilang ? Kan biar bisa ngomong berdua. ” kata Dimas untukku.
            ” Abis lo ada di depan, udah gitu kata Tiwi juga lebih cepat lebih baik. Ya udah langsung ngomong aja deh. ” jawabku berusaha membela diri.


Setelah Tiwi, Nabil dan Anis tahu kalau aku dan Dimas berpacaran mereka sangat senang. Aku dan Dimas juga sama, kami berpacaran secara sehat. Awalnya tidak banyak orang yang mengetahui kalau aku dan Dimas pacaran. Tapi lama-lama teman-teman satu kelas telah mengetahui hubungan antara aku dan Dimas. Bahkan sudah beberapa guru mengetahui tentang hal itu. Aku heran, dari mana mereka tahu tentang hal itu, sedangkan aku sendiri tidak pernah cerita ke orang lain selain sahabatku. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu, karena mereka juga tidak masalah dengan aku dan Dimas.

Sudah hampir dua bulan aku menjalani hubungan itu dengan Dimas. Tapi aku merasa Dimas tidak nyaman dan leluasa menjalaninya. Kita jadi jarang berbicara. Dimas jadi sering berbagi cerita dengan sahabat-sahabatku dari pada denganku.

Aku selalu berusaha memperbaiki suasana dan terkadang Dimaspun sebaliknya. Dan aku berpikir mungkin aku harus introspeksi diri dan harus bisa mengerti keinginan Dimas. Tapi lama-lama aku menjadi jenuh dengan keadaan seperti itu.

” Nanda aku mau ngomong. ” kata Dimas agak serius.
” Apaan ? ” jawabku singkat.
” Aku minta maaf ya kalau selama ini aku jahat sama kamu. Aku udah egois dan aku enggak bisa kasih apa yang kamu harapin. Aku ngerasa kita itu sekarang cuma status doang yang pacaran tapi kita malah diem-dieman kayak gini, aku juga ngerasa jadi orang yang enggak mampu banget buat nolong kamu. Aku rasa kita tuh sama-sama saling nyiksa diri, kita sama-sama saling enggak mau kalah. Sebenernya apa sih yang kamu rasain ke aku ? ” kata Dimas panjang lebar.
” Aku kira cuma aku yang ngerasa kayak gitu, gak taunya kamu juga ya. Yang aku rasain ke kamu ya tetep sama kayak dulu. Dimas, aku tuh enggak pernah minta atau berharap sesuatu yang emang enggak bisa kamu kasih. Aku juga masih nerima semuanya dengan apa adanya. Aku juga sekarang lagi berusaha banget buat ngertiin apa mau kamu, aku juga introspeksi diri karena aku juga ngerasa kayak apa yang kamu bilang tadi. Tapi aku sendiri jadi bingung harus kayak gimana ? Menurut kamu jalan baiknya gimana ? ” kataku berusaha mengeluarkan apa yang janggal selama ini.
” Aku juga bingung jalan baiknya kayak gimana, aku terserah kamu aja deh. Aku ngerasa bersalah udah bikin kamu kayak gini.” kata Dimas nampak ragu.
” Terserah aku ni ? ” tanyaku sambil berpikir apa yang harus aku jawab selanjutnya.
” Iya ” kata Dimas singkat.
” Kalau menurut aku, kita sama-sama saling introspeksi diri, kita rubah sikap kita masing-masing. Mungkin kita harus lebih dewasa sedikit dan enggak boleh saling egois. Kita juga harus saling terbuka satu sama lain, utarain apa aja yang kamu rasain, jadi kita bisa saling tahu apa yang kita rasain. ” kataku berusaha memperbaiki keadaan.
” Nanda aku mau cerita, tapi kamu jangan marah ya ? ” kata Dimas mulai serius.
” Iya mau cerita apa ? ” jawabku siap mendengarkan.
” Kamu tahukan posisi aku sekarang kayak gimana ? Kamu tahu aku disini tinggal enggak sama orang tua aku. Mereka ada di Yogya sedangkan aku disini cuma sama kakakku. Aku di sekolahin disini karena mereka berharap aku juga bisa jadi orang yang berhasil. Mereka selalu berdoa buat aku dan aku juga enggak mau ngecewain mereka. Aku ngerasa bersalah banget sama orang tua aku, kalau aku udah telpon mereka. Mereka selalu titip pesen aku disini harus jaga diri baik-baik dan jangan kegoda syaitan, kalau bisa jangan pacaran dulu, belajar dulu yang bener. Mereka selalu bilang itu ke aku, tapi kamu jangan marah ya aku ngomong kayak gini, aku cuma pengen curhat aja sama kamu. ” kata Dimas menceritakan apa yang ia rasakan sekarang.

Aku mengerti keadaan Dimas dan orang tuanya, aku juga tidak marah karena wajar kalau orang tua Dimas menginginkan yang terbaik dan Dimas juga ingin menghibur dan mencari kesenangannya sendiri. Tapi disatu sisi aku merasa Dimas ingin menyudahi hubungan ini tapi ia ingin aku yang mengakhirinya.

” Enggak kok Dimas, aku enggak marah aku ngerti. Aku selama ini pacaran sama kamu untuk motivasi aku juga biar aku semangat dan orang tua aku juga enggak kecewa. Aku juga ingin nunjukin yang terbaik buat orang tua aku. Mungkin kita emang harus jalanin aja dulu apa adanya. Tapi kalau kamu emang enggak bisa jalanin ini, aku enggak masalah kok. Kalau kamu seneng aku juga ikut seneng. ” kataku berusaha memberikan jalan tengah.
” Iya deh, kita jalanin aja dulu. ” Dimas mengakhiri pembicaraan.

Aku sendiri menjadi bimbang apa kata-kata dan keputusan tadi tepat dan membuat Dimas terpaksa menerima keputusanku itu. Aku jadi berpikir sendiri dan ingin bercerita kepada sahabat-sahabatku. Tapi aku agak ragu, karena merasa mereka sendiri sudah tahu jawabannya.

” Nabil, Anis, Tiwi. Menurut lo semua, gue lebih baik terus apa udahan ? ” aku memberanikan diri bertanya kepada tiga orang sahabatku tersebut.
” Maksud lo, terus atau putus sama Dimas ? ” tanya Nabil.
” Iya ” jawabku singkat.
” Gimana ya ? gue bingung. Tapi kalau menurut gue sih ya, mendingan udahan aja deh Nanda. Soalnya lo berdua juga jadi kayak enggak seneng-seneng banget dan gue juga enggak mau ngeliat lo berdua jadi kayak gini terus-terusan. ” kata Nabil menerangkan dan aku hanya bisa mendengarkannya.
” Lagian Nda, sebenernya Dimas udah pengen putus sama lo dari beberapa hari yang lalu, semenjak lo diem-dieman, tapi dia juga enggak mau ngelepasin lo. Dia udah seneng banget ngejalanin ini semua sama lo. Tapi dia enggak mau yang mutusin lo, dia maunya lo yang mutusin dia. “ sambung Nabil tanpa bermaksud memanas-manasiku.

Ternyata benar dugaanku tadi, terjawab semuanya dan aku jadi mulai mengerti apa yang Dimas rasakan. Aku berpikir bahwa akulah yang egois karena mempertahankan orang yang sudah tidak merasa nyaman dengan keadaannya. Akupun hanya bilang terima kasih kepada Nabil dan sahabatku dan aku menundukkan kepala.

Terdengar suara adzan Dzuhur dari speaker sekolahku, aku seperti mengenal suara orang yang mengumandangkan adzan Dzuhur itu dan aku segera mengambil handphone di saku bajuku. Aku menekan tombol ‘Menu’ pilih ‘Pesan’ dan menuju ‘Buat Pesan’.

’ Dimas kalau dipikir-pikir, kita emang lebih baik sahabatan aja deh. Aku juga ngerasa kamu udah enggak nyaman sama keadaan yang kayak gini. Aku juga enggak pengen ngeliat kamu ngerasa bersalah terus. Tapi kita tetep bisa jadi sahabat. Makasih ya Dimas. ’
Dikirim ke Dimas.

Tidak lama suara adzan itu sudah tidak terdengar lagi dan berganti menjadi suara radio sekolah yang mulai mengudara. Akupun menenggelamkan kepalaku di atas mejaku untuk menahan tangis.

Lalu setelah sholat Dzuhur, sosok pria putih itu datang dengan santai dan menghampiriku.
” Nanda, tadi kamu SMS apa sih ? Tadi SMSnya enggak bisa kebuka. ” tanya Dimas.

Aku sempat melihat wajah Dimas dengan wajah yang agak bingung, tapi aku tidak menjawab pertanyaan Dimas. Lalu aku mengambil handphone dan menunjukkan pesan berita terkirim yang baru saja aku kirim saat adzan tadi. Raut wajah Dimas menjadi berubah dan aku tidak berani melihat Dimas, karena aku takut air mataku tumpah.

” Kamu tadi ngirim ini ? ” tanya Dimas lemas dan aku hanya mengangguk tak bertenaga.
” Kamu mau kayak gini ? ” lanjut Dimas.
” Kamu juga udah ngerasa enggak nyamankan sama keadaan yang kayak sekarang ? ” tanyaku balik ke Dimas.
Dimas tidak bisa menjawab apa-apa, lalu aku kembali menenggelamkan kepalaku dari balik jaket biru di atas meja dan Dimas membalikkan badannya membelakangi aku.

Lalu aku berusaha bangun dan berbincang-bincang dengan teman-temanku seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dan aku melihat Tiwi dan Nabil segera aku menarik mereka dengan alasan menemaniku ke kamar mandi. Aku berbicara dengan mereka ditangga, aku memegang tangan mereka erat-erat.

” Ehh Nanda, lo kenapa ? Pucet banget lo ? Sakit ya ? ” tanya Nabil panik. Lalu aku memeluk Nabil dan air mata itu tumpah dengan cepat, aku berusaha mengatur nafas dan emosiku. Tiwi juga ikut memelukku.

” Nanda lo kenapa ? ” tanya Tiwi sambil mengelus rambutku.
” Gue putus sama Dimas. ” jawabku singkat dan pelan.
” Kapan ? ” tanya Nabil kaget.
” Tadi, lewat SMS pas lagi adzan. ” jawabku yang mulai duduk ditangga. Aku menceritakan semuanya kepada Nabil juga Tiwi yang terus berusaha menghiburku.

Drrt. Drrt. Drrt.
Aku segera mengambil handphoneku yang bergetar manampilkan tampilan 1 Pesan Baru, aku segera membaca pesan singkat itu.

’ Nanda kalau itu mau lo. Ya udah kita sahabatan aja dulu. Maafin gue ya, tapi kita jangan diem-dieman ya. Makasi buat semuanya. ’
Pengirim Dimas.

Setelah membaca pesan itu aku bangun dari dudukku dan berusaha kuat dan tegar. Lalu aku, Nabil dan Tiwi kembali ke kelas. Aku bersikap seperti biasa walau tidak banyak bicara. Sampai akhirnya bel pulang sekolah itu berbunyi dan aku segera pulang untuk menenangkan diri. Aku langsung pamit kepada sahabat-sahabatku termasuk Dimas. Dan Dimas hanya melihatku dan mengenggukkan kepalanya tanda mengiyakan.

Aku buru-buru pulang dan ingin cepat sampai di rumah karena aku ingin istirahat. Setelah aku sampai di rumah aku sudah melihat ibuku yang sedang berbincang-bincang dengan teman kuliahnya di ruang keluarga. Aku segera bersalaman dan membersihkan diri, lalu aku berkaca dicermin meja rias kamarku.

” Jangan nangis lagi ! Mungkin ini yang lebih baik. Allah selalu mempunyai jalan lain yang lebih baik dari sebelumnya, lagian lo masih bisa sahabatan sama dia, Nanda. ” kataku di depan cermin untuk menghibur dan meyakinkan diriku sendiri.

Aku kembali memperhatikan diriku sendiri, aku memegangi rambutku. Aku jadi teringat sebuah novel yang pernah aku baca, disitu dituliskan cara untuk mengatasi diri yang sedang patah hati adalah jangan terlalu larut dalam masalah dan manjakan diri kita sendiri, contohnya dengan pergi ke salon.

Akupun coba untuk mengikuti saran itu agar aku merasa lebih kuat dan labih baik lagi. Lalu akupun ke salon langgananku ditemani ibuku.

Hair stylist di salon itu nampaknya sudah tahu apa yang harus ia lakukan dengan rambutku. Rambutku dipotong layer se-bahu. Aku dan ibuku merasa puas dengan hasilnya, dan ternyata novel itu benar. Aku merasa menjadi orang yang baru dan siap menghadapi hari-hari esok jauh lebih baik.


Dan pagi ini adalah awal dari semuanya, jangan terlalu larut, jadikan dirimu tampak berbeda, tegar adalah kunci menjalani hari ini dan seterusnya. Aku Ananda Putri Hutomo akan membuat hari-hariku jauh lebih baik dan antara aku dan Dimas ternyata memang lebih baik jadi sahabat.



SELESAI




     



1 komentar: